Thursday, January 7, 2010

(Masih) Seputar Undangan


Jodoh nggak akan lari kemana, tapi kalo nggak kemana-mana ya nggak akan jadi jodoh.

---------------------------------

Jodoh itu bukan hanya untuk ditunggu, yang tiba-tiba bisa jatuh dari langit dan mendarat di depan kita sembari bilang, ’akulah jodoh-mu’ (hahaha, ini versi Ria, salah satu teman saya di kos). Jodoh juga tidak bisa hanya diangan-angankan, diimpikan siang dan malam. Harus ada usaha. Perlu perjuangan (masih ingat dengan reality show pertama tentang perjuangan cinta? :D). Juga doa. Dan membutuhkan waktu. Untuk saling mengenal, menyayangi, memahami dan menghargai satu sama lain, serta membuat satu komitmen.

Jodoh itu nggak bisa ketebak. Kapan datangnya maupun di mana bertemunya.

Teman saya, sebut saja si A, berpacaran hingga 5 tahun dengan si B. Setelah itu mereka putus. Si A akhirnya bertemu dengan si C, berpacaran lebih kurang 6 bulan dan kemudian menikah awal tahun ini. Adalagi si D berpacaran dengan si E waktu SMU, kemudian putus karena kuliah di tempat yang berbeda. Si D kemudian pacaran dengan orang lain, begitu juga si E. Selang 4 tahun setelah putus, mereka balikan lagi hingga sekarang dan akan menikah pertengahan tahun ini. Ada juga dua orang kakak angkatan saya yang bertemu dengan suaminya saat KKN, padahal sebelum mengikuti KKN mereka telah berpacaran cukup serius dengan pacar terdahulunya masing-masing. Satu diantaranya bahkan akan segera bertunangan.

Oh ya, ada satu kisah lain tentang bagaimana bertemu dengan si ’jodoh’ dari seorang teman yang membuat saya benar-benar yakin bahwa jodoh itu di tangan Tuhan. Also it needs our efforts to make us be able to meet someone who named soulmate. Soon or slow but sure :D

Si Y, inisial teman saya, menempati posisi ke 6 dari seleksi akhir dalam program beasiswa untuk belajar ke negara tetangga yang ia ikuti. Padahal yang menerima beasiswa hanyalah 5 peringkat teratas. Beberapa minggu sebelum keberangkatan para peserta yang telah lolos seleksi beasiswa tersebut ke negara tujuan program beasiswa, ada satu orang dari ke lima peserta itu yang gagal berangkat karena satu dan lain hal. Satu kursi dari peserta itu kemudian diberikan untuk teman saya yang menempati peringkat ke 6. Singkat cerita, akhirnya teman saya berangkat ke sebuah negara tetangga untuk melanjutkan pendidikannya, dan selang 1 tahun sekembalinya dia ke Indonesia setelah menyelesaikan studinya, si Y kemudian menikah dengan teman kuliahnya yang ia kenal semasa belajar di negara tersebut.

Satu hal yang langsung melintas di pikiran saya waktu saya mendengar kabar pernikahannya, juga bagaimana cara ia bertemu dengan suaminya itu. Soulmate is about God’s secret. God has always a unique and unpredictable way to make us meet our soulmate. Jika teman saya itu tidak jadi berangkat untuk melanjutkan studi ke negara itu, would she meet her future husband?

So, yuk perbanyak jaringan pertemanan juga link networking kita. Siapa tahu dari sekian banyak teman atau orang yang kita temui dari aktivitas-aktivitas yang kita lakukan, kita bisa bertemu dengan our real soul-mate. Belum ada aturan tertulis juga kan kalau yang dekat dengan kita saat ini memang benar-benar jodoh kita, hohoho :D:D

0 comments: