Monday, November 1, 2010

Pengen Liat Buaya

Saya pernah berandai-andai, ingin memiliki pekerjaan yang membuat saya bisa berjalan berkilo-kilo melewati hutan, naik boat atau perahu untuk menyusuri laut ataupun sungai, dan melalui sungai yang ada buayanya. Saya pernah juga berandai-andai memiliki pekerjaan yang membuat saya harus mengunjungi banyak tempat.
Mungkin kedengarannya aneh, seperti reaksi beberapa teman yang langsung tertawa saat mendengar keinginan saya ini.

Segala 'andai-andai' itu terasa jauh di awang-awang, hingga saya mendapatkan kesempatan kerja di Kalimantan Timur.
Saya pernah berjalan sejauh 3 kilo melewati hutan yang banyak tanjakan dan masih penuh dengan ilalang. Sampai di tempat tujuan saya baru sadar jika kaki saya sudah berdarah-darah akibat banyak tergores daun berduri. Perih sih, capek juga, tapi menyenangkan meski kulit tambah kelam.
Saya sering melihat monyet-monyet kecil berlompatan dari satu dahan ke dahan lain. Juga burung-burung, dari bangau; jalak; kutilang; beo; bahkan elang dan beberapa jenis burung berwarna cantik lainnya, yang sayangnya tidak ada yang tahu namanya.
Dan kemarin, saat dalam perjalanan pulang saya membaca  sebuah plang berwarna merah bertuliskan: ‘bahaya, ada buaya’ yang dipasang di depan sebuah sungai.
Saat melihat sungai dan plang itu, beneran, saya merasa seperti a dream comes true (hoho :p), keinginan saya untuk melewati sungai yang ada buayanya bisa tercapai :D.

Saat saya tanyakan ke salah satu rekan di site mengenai kebenaran isi plang tersebut, ternyata memang di sungai itu ada buayanya. Buaya asli, buaya sungai, bukan buaya darat :p.
Pohon-pohon seperti ini merupakan ciri khas habitat buaya, ceunah :)
Sayangnya saya tunggu selama beberapa menit buayanya nggak muncul-muncul. Rekan saya bilang, kalau mau buayanya muncul cukup dengan memberi umpan bebek yang diikat kakinya. Tapi ah, saya nggak setega itu untuk menceburkan seekor bebek demi melihat buaya.
Dan ternyata buayanya memang nggak mau muncul ke permukaan (ya iyalah nggak ada umpan ini :D). Mungkin lain kali jika melewati sungai itu lagi saya sebaiknya sambil ‘sangu’ batu. Siapa tahu kalau saya melempar batu ke dalam sungai, buayanya lalu mau menampakkan diri :p. Karena rasanya pasti beda ketika bisa melihat buaya langsung di sungai yang menjadi habitatnya, seperti yang sering saya lihat dalam video dokumenter-nya Steve Irwin, dengan melihat buaya di penangkaran atau kebun binatang.

Eh tapi saya juga nggak mau berdoa biar ketemu buaya, takut kualat :)
Oh ya, lokasi sungainya sendiri ada di wilayah Pendingin, Kecamatan Sanga-Sanga, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Sunday, October 31, 2010

on My Birthday Today

The written below should be uploaded on October 27th 2010 :)

Beep.
Getaran handphone saya untuk menandakan ada sms, email, maupun notification facebook yang masuk, bergetar terus hari ini.

Bukan karena sibuk atau dibutuhkan banyak orang (hoho:p), tapi karena hari ini saya ulang tahun. Alhamdullilah, banyak sms, telp, email maupun ucapan melalui facebook yang saya terima dari keluarga maupun teman-teman saya.
Ulang tahun kali terasa cukup berbeda buat saya. Ada beberapa hal yang membuat ultah tahun ini menjadi cukup berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Tambah usia, sudah pasti. Tambah dewasa, itu pilihan :). Tapi bukan itu yang membuat berbeda.
Ada kemandirian, passion, pembuktian terhadap kekuatan usaha dan doa serta pilihan hati, yang di tahun lalu seakan masih di awang-awang, perlahan mulai terlihat di tahun ini.
Alhamdullilah.
Hanya kata itu yang bisa saya ucapkan terus dan tak putus...
Di hari ini juga saya mencoba mengingat kembali semua hal yang telah saya lalui. Betapa banyak kemudahan yang selama ini saya dapat di antara kesulitan yang saya rasakan.
Doa saya tidak selalu terwujud, tapi Allah SWT memberikan banyak hal yang jauh melebihi apa yang saya pinta. Setiap keluhan saya di masa lalu dijawab-Nya dengan kesempatan yang melebihi apa yang pernah saya keluhkan. Kesempatan yang terkadang bahkan mengingatkan saya dengan impian saya saat kecil, sekolah, kuliah, hingga bekerja. Kesempatan yang membuat saya merasa bahwa inilah yang saya cari.
Menjadi tugas saya untuk memanfaatkan setiap kesempatan yang telah diberikan-Nya untuk saya.
Hari ini usia saya bertambah satu tahun. Jalan saya masih panjang. Masih banyak hal-hal lain yang ingin saya capai dan wujudkan di masa mendatang. Masih banyak pula hal lain yang harus saya pelajari.

Dan, penambahan usia saya tahun ini seolah menjadi turning point bagi saya, untuk terus berusaha menjadi lebih baik lagi di masa mendatang dan juga percaya, bahwa Yang Maha Kuasa sudah sedemikian cantiknya mengatur segala sesuatu yang terbaik untuk saya.

Sudah Ber-BB :)

Lo beneran pake BB Mir? Blackberry kan, bukan Blueberry? :D
-Sms seorang teman, akhir Oktober ini-
---------
Yup, akhirnya saya pakai BB. Bukan dipakai untuk sekedar gaya-gayaan, ataupun mengikuti trend jaman sekarang:).

Agar bisa terkoneksi dengan email kantor dan gmail (ups, kesebut deh :p), itu alasan kenapa akhirnya saya membeli BB.
Awalnya saya justru kurang suka dengan benda satu ini yang booming sejak sekitar beberapa tahun lalu. Alasannya simpel: sekian teman menggunakan BB hanya untuk facebook-an, chatting atau juga BBM-an, dan (sepertinya) malah lupa dengan pekerjaannya.
Mau berangkat bermain bulu tangkis, update status. Waktu pertandingan bulu tangkis tinggal 5 menit lagi, masih nyempetin update status. Pertandingan masuk waktu istirahat, bisa baca dari update statusnya. Pas kalah, eh update lagi. Buset dah :p Tapi giliran pekerjaan, nanti-nanti terus jawabannya (maaf, sama sekali tidak bermaksud menyindir siapapun, itu juga saya baca dari status teman yang non bb :D) .
Itu yang membuat saya nggak suka dengan BB, membuat orang (seolah-olah) jadi egois dan menjadi tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya dan bertahan untuk tidak pakai BB.
Hingga, modem dari salah satu provider internet yang saya gunakan selama ini seringkali tidak ada sinyal saat saya bawa ke site, layanan web mail di kantor pun diblock padahal ini merupakan satu-satunya cara agar tetap dapat stay in touch dengan beberapa sahabat, ditambah pekerjaan saya juga  yang sebagian besar di lapangan sehingga tidak setiap saat saya bisa terkoneksi dengan layanan email kantor.
Itu yang membuat saya kemudian memutuskan membeli BB. Blackberry, bukan Blueberry, apalagi Beriberi (ini versi keponakan saya, hehe).
Begitu punya BB, saya jadi tahu alasan kenapa banyak orang yang seolah-olah menjadi egois kalau sudah berkutat dengan BB-nya. Facebook, twitter atau you tube dapat dibuka kapan pun. Belum lagi ym, g-talk maupun MSN, bisa online 24 jam.
Makanya ym, g-talk atau MSN saya hanya online kalau malam (eh kadang siang online juga sih, kalau pas suntuk, hihi :p), begitu juga dengan facebook yang malahan jarang saya buka. Pengecualian hanya untuk twitter, yang seringkali saya buka sebagai sarana tempat menumpahkan isi hati (hadeuh naon sih :p). Beda dengan email kantor yang rutin saya cek ataupun ber-BBM-an dengan rekan kerja atau atasan saya di kantor.
Karena saya nggak ingin orang yang melihat saya ketika memakai BB menjadi kesal atau sebal, seperti dulu yang sering saya rasakan ketika melihat orang lain yang sedang asyik ber-BB tanpa mengindahkan lingkungan sekitar.
Karena itulah, saya masih tetap sebal dengan orang-orang yang selalu ‘nyenthuk’ dengan BB-nya semata-mata hanya untuk membuka facebook atau chatting. Atau ber-BBM-an masalah pribadi, ketika rekan kerja lainnya sedang pontang panting menyelesaikan sebuah pekerjaan.
Karena kita lah yang harus mengendalikan BB, bukan BB yang mengendalikan kita :)

Sunday, October 24, 2010

Antara Hati dan Pekerjaan

Nduk, kerjo kuwi kudu seko ati. Meh sepiro abote gaweane, nek le kerjo seko njero ati, ora bakalan kroso abot.
-Nasehat Papa saya di suatu sore saat saya pulang ke rumah-
----------------------------------------

Buka fb. Ada update status dari seorang teman, sebut saja A. Demotivasi lagi.. demotivasi lagi. Begitu tulisnya.
Saya agak terkesima membaca statusnya. Sekian bulan lalu, ia menuliskan status yang sama saat masih bekerja di perusahaan sebelumnya. Diikuti dengan status-status selanjutnya yang selalu bernada keluhan tentang pekerjaan yang saat itu dijalaninya.
Saat itu saya masih menerima status dia dengan wajar, 'mungkin dia benar-benar sudah tidak memiliki passion baik dalam bidang pekerjaan maupun tempat di mana ia bekerja', pikir saya waktu itu.
Hingga saya mendengar kabar jika teman saya itu mendapatkan pekerjaan baru, di bidang dan tempat bekerja yang benar-benar ia dambakan, seperti yang selalu diceritakannya pada saya.

Belum genap 6 bulan dari sejak ia meninggalkan pekerjaan yang lama dan memulai pekerjaan barunya, muncul status tersebut dari teman saya itu. Beberapa status lain bernada sama, masih tentang ketidakpuasannya dalam bekerja di tempat barunya, ternyata sudah pernah ia update sebelumnya.
Jujur, saya kaget dia menulis hal itu di statusnya. Tadinya saya berpikir jika bekerja di bidang dan tempat yang memang sudah menjadi dambaannya selama ini, seharusnya dia semangat. Semestinya dia bersyukur karena inilah passion dia.
Tiba-tiba saya ingat, seorang teman pernah berucap:

Buat orang lain mungkin bekerja dengan hati itu bullshit Mir, tapi buat gw, selama gw hidup nggak bakalan gw kerja kalo nggak dari hati.
Sedikit ekstrim kedengarannya. Tapi saya setuju dengan pendapat teman saya tadi. Bekerja itu harus dengan hati. Untuk pekerjaan apapun. Karena hati akan menentukan mindset kita, apakah kita bisa menikmati sebuah pekerjaan atau tidak. Jika tanpa hati, mau di manapun atau di bidang apapun kita bekerja, bahkan seberapa besarpun gaji yang kita terima, hanya keluhan yang akan muncul.
Bukannya saya tidak pernah mengeluh. Saya juga pernah mengalami satu waktu di mana saya selalu mengeluhkan tiap hal dalam pekerjaan saya. Harusnya begini, harusnya tidak seperti itu, dan masih banyak lagi keluhan yang lain. Tapi saya masih berusaha untuk menggunakan hati saya ketika bekerja, meski passion saya sudah tak lagi di situ. Dan, ketika saya sudah tidak mampu lagi bekerja dengan menggunakan hati, saya tahu, itulah saat di mana saya harus berhenti. Berhenti dan mencari tempat di mana saya bisa bekerja dengan menggunakan hati saya.
Bukankah bekerja itu adalah ibadah?
Namun apakah bekerja bisa disebut sebagai sebuah ibadah jika yang kita lakukan hanya mengeluh dan mengeluh? Yuk ah, tanya ke hati kita masing-masing. Ikutkah ‘dia’ ketika kita bekerja? :)

-Hanya sebagai renungan pribadi- 

Bekerja dengan Sistem Baru

Kerja di Jakarta itu ibarat 6 P: pergi pagi pulang petang pantat panas.
-Sms seorang teman jam 7.25 pagi WIB, jam macet-macet-nya di Jakarta-
----------------------------
Yup, bekerja di Jakarta bagi saya seperti menghabiskan waktu di jalan. Berangkat pagi, kepagian sampai kantor, berangkat agak siangan, kesiangan yang ada. Pulang juga begitu. Pulang teng go, ketemu macet. Pulang agak maleman, eh masih ketemu macet juga.

Beberapa bulan lalu, saya masih menjalani rutinitas seperti yang disebut teman saya dengan 6 P itu. Namun efektif sejak pertengahan Juni 2010, sejak bergabung dengan perusahaan tempat saya bekerja saat ini yang bergerak di bidang mining construction, rutinitas tersebut saya tinggalkan. Di pekerjaan saat ini, saya ditempatkan di site dan bekerja dengan sistem 6 weeks on : 2 weeks off atau biasa disebut 6:2, 6 minggu bekerja di site dan 2 minggu off kembali ke Jakarta.
Banyak teman beranggapan bahwa sistem kerja 6:2 ini sangat berat. Enam minggu bekerja di weekdays maupun weekend, dari pagi hingga sore.
Kelihatannya sih memang berat. Kelihatannya?
Yuk saya jelaskan kenapa saya bilang hanya ‘kelihatannya’.
Secara kasat mata sepertinya pekerjaan saya ‘agak’ berat, 6 minggu masuk dengan lokasi sebagian besar di remote area. Kenyataannya, bekerja dengan sistem seperti ini justru sebaliknya, menyenangkan buat saya. Setidaknya sampai saat ini :).
Dengan sistem kerja 6:2, saya bangun tiap hari jam 5 pagi, mulai kerja jam 6 pagi hingga jam 6 sore, dari Senin sampai Minggu. Sekitar jam 18.15 atau paling lambat jam 18.30, saya sudah sampai di mess dan sudah bersiap makan malam. Jam kerja saya dihitung dari pukul 6 pagi – 6 sore, dari Senin sampai Minggu.
Kalau saya kerja di Jakarta, saya tetap bangun jam 5, jam 6 pagi saya sudah harus di jalan untuk menghindari macet. Baru sampai kantor jam setengah 8-an lebih (kadang lebihnya banyak sampai mepet jam 8 :D), jam kerja dihitung dari jam 8 pagi sampai 5, dan baru sampai rumah sekitar 8 – 9 malam. Pernah, ketika saya berangkat dari rumah sepupu saya di bilangan Ciledug, berangkat malahan harus dari jam 5 pagi dan baru sampai rumah jam 10 malam. Sabtu-Minggu, karena kerjaan saya kebanyakan di lapangan (maen bola :p), lebih sering saya masuk ketimbang libur. Adapun jam kerjanya, teteup, hanya dihitung dari pukul 8 – 5, Senin – Jumat.
See, berapa banyak waktu yang terbuang di jalan ketika saya bekerja di Jakarta. Belum ditambah dengan kemacetan yang semakin hari sepertinya makin bertambah parah. Saya juga nggak perlu menghirup udara yang udah kecampur asap knalpot kendaraan, nggak perlu juga mendengar klakson mobil, motor dan bis saling beradu di jalan. Belum kalau saya pas naik bis dan nggak kebagian tempat duduk, terjebak macet pula waktu berdiri di bis. Duh, rasanya pengen teriak :D
Sedangkan di site, jam setengah 7 pagi saya sudah sampai kantor dan mulai bekerja, di saat yang sama sebelumnya saya masih di jalan menuju kantor di Jakarta. Tiap pagi saya masih bisa merasakan nikmatnya udara segar, juga sunrise. Begitu pula saat pulang, saya bisa berlama-lama memandangi indahnya sunset. Kadang ada bonus tambahan, bisa melihat monyet yang sedang loncat-loncat dari satu dahan ke dahan lain dalam perjalanan menuju kantor maupun ketika akan berkunjung ke sebuah desa :D. Jam setengah 7 malam juga saya sudah sampai mess siap makan, sementara jika di Jakarta jam segitu pasti saya masih di jalan juga.
Hidup saya justru lebih teratur dengan sistem kerja seperti ini. Saya bisa sarapan, makan siang dan makan malam tepat waktu. Begitu juga untuk bangun tidur maupun tidur-nya. Kebalikannya, saat saya bekerja di Jakarta, saya jarang banget bisa sarapan, makan siang kadang ngaret, apalagi makan malam. Maag saya jadinya nggak pernah kambuh tuh sejak saya bekerja dengan system 6:2.
Keuntungan lain, dengan waktu libur 2 minggu saya bisa sering-sering pulang ke rumah orang tua saya di Magelang, bertemu teman-teman saya di Bandung, Yogya, dan Jakarta tentunya, masih punya waktu juga untuk liburan.
Saya memang tidak bisa selamanya bekerja dengan sistem seperti ini, 6 minggu bekerja di luar Jawa dan 2 minggu di Jakarta. Namun setidaknya, saya hanya berusaha menikmati apa yang saya dapat dan sedang lakukan saat ini. Karena itulah intinya, untuk menikmati hidup.
Bagaimana mungkin kita bisa menikmati hidup, jika untuk menikmati apa yang sedang kita kerjakan saja kita tidak bisa?

Wednesday, October 20, 2010

Kucing dan Kasih Sayang

Seharusnya juga ter-upload di pertengahan September J
Balikpapan, 13 September 2010.
Saat mau ambil uang di atm, (sepertinya) di daerah Klandasan, Balikpapan, tidak sengaja saya melihat seekor induk kucing di bawah sebuah mobil bersama anaknya.

Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan induk-anak tersebut. Selang beberapa menit sesudahnya, karena saya masih antre atm, saya mulai ‘ngeh’ jika ada yang aneh dengan anak kucing itu. Lehernya kelihatan lunglai dan matanya terbuka, sama sekali tidak bereaksi sementara induknya masih terus menciumi leher si kucing.
Ternyata, anak kucing itu sudah mati. Penyebabnya saya kurang tahu pasti, karena tidak ada darah juga di badan si kucing kecil. Tiba-tiba induknya membawa anak kucing itu – dengan cara menggigit lehernya- berjalan ke dekat tempat saya berdiri. Begitu direbahkan, si induk terus menciumi leher anaknya yang sudah mati. Tak berapa lama, induknya membawa anaknya pindah tempat lagi, dan terus menciumi leher anaknya begitu badan anaknya direbahkan di tanah. Dan begitu seterusnya, sampai dalam hitungan saya, lebih dari 6 kali induk kucing melakukan hal itu. 
Saya sengaja mundur dari antrean atm dan mempersilahkan orang di belakang saya lebih dulu karena saya ingin terus melihat induk kucing itu.
Saya nggak tahu apakah si induk kucing itu tahu kalau anaknya telah mati atau tidak. Namun di sini saya diingatkan, bahwa meski ia hewan, naluri antara ibu dan anaknya pasti ada.
Saya sebenarnya membawa kamera, tapi saya tidak tega untuk memotretnya. Memotret induk kucing, yang meski saya tidak tahu pasti bagaimana perasaannya saat itu, tapi saya yakin dia sedih. Bersedih kehilangan anaknya.
Lebih dari itu, saya tidak memotret mereka karena saya teringat dengan Ibu saya. Lebaran tahun ini saya lewatkan sendirian, di tempat yang masih baru untuk saya, jauh dari keluarga. Saya baik-baik saja selama lebaran, tidak menangis sama sekali, dan masih baik-baik saja, hingga saat melihat induk kucing itu.
Saat itulah saya sadar, sekuat apapun kita, without family we are nothing.

Di Kalimantan

Seharusnya sudah ter-upload sejak akhir September 2010 :)

Kalimantan? Nggak salah lo Mir mau kerja di Kalimantan?

-komentar beberapa teman saat mereka tahu saya akan ditempatkan di Kalimantan-

-------------------------
Buka blog, baru sadar kalau well it’s been a long time (too long malah) I didn’t write anything on this blog..
Jadi ceritanya begini. Saya mendapatkan tantangan baru di tempat baru juga, masih di bidang CSR (alhamdulillah), dengan area kerja di Kalimantan.
Kalimantan?
Iya, di Kalimantan atau sering disebut juga Borneo. Nggak terhitung berapa banyak teman yang kaget dan bahkan menyarankan saya untuk tidak mengambil kesempatan ini, hanya karena area kerja di Kalimantan!
Saat saya melamar pekerjaan saya saat ini, saya sudah menduga jika diterima kemungkinan besar saya akan ditempatkan di site perusahaan di luar Jawa. Makanya sejak dari proses wawancara hingga akhirnya dinyatakan diterima, saya sudah siap untuk bekerja di Kalimantan.
Oh ya, sistem kerja saya juga berubah. Jika sebelumnya saya hanya bekerja di Weekdays atau dari Senin-Jumat seperti pada umumnya, sekarang sistem kerja saya 6 weeks on dan 2 weeks off. Days on in East Kalimantan, while during my days off I’ll be in Jakarta or other places I’d like to visit :).  
Berbeda dari bayangan teman-teman saya, ternyata bekerja di Kalimantan itu menyenangkan. Banyak hal baru yang saya temui di lapangan yang membuat periode 6 weeks on di Kalimantan tidak terasa.
Alamnya masih natural, pegunungannya hijau, sungainya besar, udaranya juga segar. Laut, kapal dan pantai menjadi hal yang biasa saya lihat. Di Kalimantan pula saya masih bisa melewati hutan. Bahkan pernah, saya dan atasan-atasan saya di kantor menemukan sebuah kampung yang hampir seluruh infrastrukturnya terbuat dari kayu. Mulai dari rumah, balai pertemuan, halaman rumah, jembatan, lapangan bulu tangkis, pasar, hingga jalan lingkungan di desa itu, all infrastructures and public facilities are made from wood. Awesome!
Di sini, saya juga masih bisa ketemu dengan tanaman putri malu, yang jaman saya SD sering saya injak-injak daunnya hingga ’mengkeret’ tiap pulang sekolah  (haha, sadis ya :D).
Meski suara sempat hilang 2 hari akibat adaptasi cuaca yang sungguh cukup esktrim di sana, saya juga harus beli nomer baru dari provider yang punya moto menjangkau hingga 1000 kabupaten, ataupun mulai harus membiasakan diri dengan komentar banyak (sekali) orang tentang saya yang katanya bertambah ’eksotik’ (kelam maksudnya :D), but after all, saya justru menikmati periode on saya di Kalimantan, terutama karena saya nggak kena macet seperti saat saya masih bekerja di Jakarta (something that always makes my head literally ‘jedug-jedug’).
Kesempatan kerja di Kalimantan juga saya anggap sebagai tempat mengasah mental, kedewasaan dalam berfikir dan juga keterampilan komunikasi saya.
Baru 6 minggu sih saya di Kalimantan, masih terlalu dini jika saya bilang saya sudah betah tinggal di sana. Namun yang pasti, I enjoyed my first 6-week on period. Tantangan memang lebih besar, tapi bukankah hal itu yang akan membuat kita semakin kuat dan pintar (haiyah, emang vitamin :D)?

Sunday, May 9, 2010

Negatif Feeling

I do believe that.. jika berfikir negatif, kita pun akan ikut-ikutan menjadi negatif. Sebaliknya, jika kita selalu berfikir positif, kita pun akan ber-aura positif. 

Hingga, selama dua minggu ini banyak hal terjadi yang (seolah-olah) menguatkan keyakinan saya itu. Sepertinya ada saja hal-hal yang membuat saya tidak nyaman, dan ujung-ujungnya menjadi bad mood. Dari mulai headphone saya yang rusak, keberisikan suara tawa tetangga sebelah, janjian dengan beberapa orang yang selalu 'ngaret', hingga listrik di kos yang sering jeglek. Kesal, pastinya.

Saya sih nggak marah-marah, tapi bawaannya jadi bad mood terus. Semuanya jadi terasa salah bagi saya. Yang ini harusnya begini, yang itu harusnya begitu. Entah kenapa, saya justru membiarkan rasa bad mood itu tanpa berusaha memperbaiki kondisi emosional saya.

Apakah berhubungan atau tidak, selama dua minggu perasaan emosi saya ’kacau’, rasanya banyak hal negatif yang saya alami. Seperti:
  • Laptop saya kemasukan virus hingga harus diinstal ulang. Akibatnya: saya nggak bisa online selama seminggu ini. 
  • Dua ATM saya keblokir. Sebab: salah masukin PIN (padahal saya nggak pernah ganti PIN sebelumnya)
  • Tombol monitor tivi saya rusak. Akibatnya: Saya baru tahu Menkeu mundur the day after.
  • Ban mobil kantor gembos waktu saya pakai, dan saya baru sadar kalau bannya 'gembos' setelah berjalan berkilo-kilo (setidaknya itu menurut pengakuan tukang tambal bannya setelah melihat tingkat keparahan ban saya :D). Hasil: ban nggak bisa dipakai = mesti beli ban lagi = pakai duit sendiri :)  
  • Lainnya: salah simpen file, sepatu baru yang bikin kaki lecet, dan.. hari ini saya keracunan makanan!
Dari semua hal tidak menyenangkan yang terjadi selama dua minggu ini, membuat saya harus mengakui jika pikiran negatif does matter to influence our personal emotions. Emosi yang nggak stabil pada akhirnya  justru membuat kita jadi nggak fokus.

Ban mobil yang kempes atau laptop kemasukan virus bisa jadi hanyalah sebuah kebetulan, karena saya kurang berhati-hati mungkin. Tapi deep down inside, saya kok percaya jika ini adalah sebuah warning bagi diri saya sendiri. Untuk kembali berfikiran positif, karena hanya dengan pikiran positif lah kita bisa bekerja dan beraktivitas dengan baik. Lebih dari itu, bisa menikmati hidup.

So yuk ah buang energi negatif, ganti dengan energi positif, and life will be easier.

Wednesday, April 28, 2010

Sahabat (tetap) Jadi Sahabat

Habis ngedengerin lagu 'Lucky'-nya Jason Myraz feat Colbie Caillat, tiba-tiba jadi kepikiran dengan bagian reffrain-nya : 
Lucky I am in love with my best friend
Kadang saya suka bertanya-tanya sendiri, kok bisa ya ada yang suka sama sahabat sendiri?

Selama ini saya termasuk orang yang percaya jika seorang perempuan bisa bersahabat akrab dengan seorang pria tanpa ada embel-embel rasa suka. Saya memiliki hubungan pertemanan yang cukup akrab dengan beberapa teman pria, dan selama bersahabat dengan mereka nggak ada tuh istilah cemburu atau merasa ditinggalkan ketika masing-masing dari mereka punya pacar. Lagipula, saya juga sudah menganggap mereka seperti kakak atau saudara sendiri.

Basically, saya memang lebih comfort bersahabat dengan pria daripada perempuan (meski jumlah sahabat perempuan saya tetap jauh lebih banyak dari pria, hehe :D), karena sahabat pria terkadang jauh lebih objective dan jujur dalam mengungkapkan pandangan ataupun penilaiannya, entah tentang diri saya, orang lain ataupun mengenai sebuah masalah.

Kita memang tidak bisa menentukan siapa orang (baca: lawan jenis) yang akan kita sukai. Bisa dengan teman sekelas, partner kerja,  orang yang baru saja kita kenal, atau sahabat sendiri seperti lagunya Jason Mraz tadi. 

Bukan bermaksud mengganggap aneh teman-teman yang berpacaran dengan sahabatnya sendiri, tapi jujur, hanya merasa aneh saja tiap membayangkan bagaimana rasanya suka dengan sahabat sendiri, karena kalau buat saya seorang sahabat akan tetap lebih baik menjadi seorang sahabat.

Meski memang, pepatah 'witing trisno jalaran seko kulino' terkadang is indeed proven :) 

Tuesday, April 27, 2010

Tiga Hari di Bandung

’’Bandung tuh sekarang panas banget, Mir. Gila, ampun deh panasnya sekarang’’.

Repetisi seorang teman waktu kita chatting di ym. Dalam bayangan saya, Bandung sekarang menjelma menjadi sebuah kota yang sangat panas, sepanas Jakarta mungkin :)

------------------------------

Akhirnya, setelah beberapa minggu hanya berencana tanpa realisasi, weekend ini saya benar-benar bisa ke Bandung.

’Baru kayak gini dibilang panas banget?’

Komentar saya dalam hati pas sampai di Bandung. Ini mah panasnya belum seberapa dibanding kota tempat tinggal saya sekarang :D.

Memang sih lebih panas dibanding sekitar 3 tahun lalu ketika saya masih tinggal di Bandung. Jaman kuliah dulu saya masih sering tidur dengan penampilan ala ’Ninja’: topi, syal, sweater, kaos kaki, dan celana panjang. Masih ditambah selimut untuk mengindikasikan betapa dinginnya Bandung di masa itu.

Meski memang terasa lebih panas sekarang, tapi panasnya Bandung masih dalam tahap wajar lah kalau bagi saya, setidaknya saya masih berani memakai baju berlengan pendek (kalau di Jakarta pake lengan pendek, beuh yang ada langsung gosong tuh kulit :p). Masih terasa ada hawa angin, airnya juga masih dingin. 

Cuma 3 hari saya di Bandung, dari Jumat sampai Minggu, tapi cukup untuk mengobati kerinduan saya dengan kota ini.

Meski hanya tinggal beberapa tahun di Bandung selama kuliah, tapi sedikit banyak kota ini memberikan kenangan tersendiri buat saya. Waktu kuliah, episode jalan-jalan dengan teman-teman kuliah, masa di mana harus ngirit tiap akhir bulan (haha, khas anak kos pisan), hingga  jaman ’grudak-gruduk’ menyeimbangkan waktu antara kuliah dan kerja.

Banyak cerita juga yang terjadi di Bandung. Tentang seorang mahasiswa perantauan yang di awal-awal kuliah seringkali mudik ke Magelang dengan alasan home sick, namun akhirnya jatuh hati juga dengan kota ini.  Atau cerita saat belajar hidup mandiri terpisah dari keluarga, yang tenyata tidak semudah seperti yang dibayangkan.

Di kota ini, saya belajar banyak tentang bagaimana hidup merantau, dengan segala seni, suka dan duka-nya.

Bandung, entah panas, lebih panas atau kembali dingin seperti dulu, whatever the weather, still, I love this place.

Sunday, April 18, 2010

Pathet dan Kekayaan Seni Budaya

-Written on Saturday-

Menjadi tugas kita juga untuk ikut mengabadikan kekayaan dan keindahan tanah air Indonesia melalui karya foto yang kita buat.

Mengutip perkataan seorang teman di Klub Fotografi IndoNikon
-------------------------------------------------

Siang tadi saya menemukan sebuah buku berjudul ‘Mode in Javanese Music’ di Perpustakaan Kementrian Pendidikan Nasional (dahulu namanya Perpus Diknas). Sesuai judulnya, ‘Mode in Javanese Music’ membahas tentang musik tradisional suku Jawa. Penulisnya Susan Pratt Walton dari Center for International Studies, Ohio University, United States. Dengan Bahasa pengantar Bahasa Inggris, secara sekilas buku ini menjelaskan secara mendetail mengenai pathet lengkap dengan penjelasan tentang tipe-tipe pathet, cengkok, sinden, dan gamelan. Bahkan, ada kord pathet-nya juga seperti untuk alat musik gitar :).

Pathet? Rasanya masih terdengar asing di telinga :)

Jalan lagi ke rak sebelah. Ada buku berjudul ‘Java, The Eden of The East’. Sayangnya nama pengarang maupun penerbitnya lupa saya catat :). Tapi yang jelas, sama dengan buku Mode in Javanese Music, The Eden of The East juga ditulis dan diterbitkan oleh penerbit dari luar Indonesia. Bukunya sendiri sangat menarik, berukuran buku saku dengan kertas glossy yang dilengkapi dengan berbagai foto tentang keindahan Pulau Jawa. Dari Pulau Jawa Barat (jika dilihat dari tahun penerbitan buku, sekitar 1990-an, Banten ditulis masih sebagai bagian dari Provinsi Jawa Barat), Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali.

Pernah nggak berpikiran hal yang sama seperti saya, kok buku-buku tentang kebudayaan kita justru lebih banyak ditulis oleh orang luar?

Buku-buku tentang kekayaan dan keindahan Nusantara sepertinya sudah cukup banyak ditulis oleh penulis kita. Beberapa diantaranya ditulis berdasarkan pengalaman langsung penulisnya ketika mengunjungi satu pulau ke pulau lain, atau sering juga disebut dengan istilah backpacker.

Tapi seberapa banyakkah buku tentang keindahan dan kekayaan seni dan alat musik tradisional kita yang ditulis secara mendetail dan diterbitkan dalam Bahasa Indonesia?

Jika memang ada bukunya, apakah banyak dari kita yang (masih) mau membacanya ? Ini sebuah pertanyaan juga bagi saya :).

Pengklaiman atas berbagai kekayaan Indonesia oleh sebuah negara memang di satu sisi meningkatkan sense or our belonging atas kebudayaan kita. Tapi di sisi lain juga harusnya dapat menjadi sebuah pembelajaran, bahwa klaim itu terjadi karena memang sebelumnya kita kurang aware. Kurang menghargai budaya kita sendiri.

Seperti Batik, berapa banyak anak muda yang memakai Batik untuk jalan-jalan 5 tahun lalu?

Banyaknya buku tentang kekayaan Indonesia yang ditulis oleh orang luar sejatinya merupakan bentuk apresiasi mereka yang tinggi terhadap berbagai kekayaan alam dan budaya Indonesia. Jika orang luar saja bisa memberikan sebuah penghargaan yang tinggi terhadap budaya kita, kenapa kita tidak memberikan (setidaknya) penghargaan yang sama seperti yang mereka lakukan terhadap budaya negeri kita sendiri?

Yuk ah mulai cintai alam dan kekayaan budaya kita, dengan menulis, Membaca, memotret, atau apapun itu :)

Oh ya, ngomong-ngomong tentang Pathet, menyadur dari Wikipedia diartikan sebagai: 'meski sukar untuk dijelaskan namun dapat dianggap sebagai tipe-tipe melodi dalam gamelan'.

Wednesday, April 14, 2010

Menghitung Teman

Boy friends come and go, but friends are forever.

One favorite quote from the novel I just finished reading this week :).

----------------------------------------------

Pak Eka Budianta, pembimbing di workshop penulisan biografi saya, satu ketika pernah memberikan sebuah penugasan unik kepada saya. Menuliskan nama teman-teman kita dalam waktu selama 30 – 60 menit.

‘’Menghitung teman? Itukan tidak terhitung, ’’ pikir saya dalam hati.

Sebelum saya sempat menanyakan hal itu secara langsung, Pak Eka memberi saya sedikit gambaran tentang tugas ini, kurang lebihnya begini:
Teman-teman kita kelihatannya sangat banyak. Tapi coba deh Mira lihat lagi, apakah Mira tahu  nama lengkap, alamat, hobby, pekerjaan, dst. Coba cek, dengan kriteria tersebut, dalam waktu 30 menit berapakah nama teman yang sudah Mira tulis.

Satu hal yang saya tangkap dari kriteria yang disampaikan Pak Eka, tulis nama teman yang memang benar-benar kenal baik dengan kita.

Minggu lalu saya sengaja menghitung nama teman-teman saya dalam waktu 30 menit. Banyak nama yang saya tulis, namun kemudian saya hapus lagi. Menuliskan nama si A, hmm.. sudah lost contact selama bertahun-tahun. Sedangkan si B, baru kenal kemarin. Dengan si C teman sih, tapi hanya sebatas say hi saja.

Setelah beberapa kali menulis dan menghapus, akhirnya ada sekitar 35 nama teman yang ada dalam corat-coretan saya. Semuanya adalah sahabat dan teman-teman yang masih stay in touch hingga sekarang.

Tiap nama teman yang saya tulis mengingatkan saya dengan berbagai kejadian yang pernah saya lalui di masa lalu. Tanpa saya sadari, betapa selama ini saya memiliki banyak teman yang sangat menyenangkan dan menerima saya apa adanya.

Mengutip satu kalimat dari Pak Eka lagi:

Menghitung teman adalah modal utama untuk hidup.
Kekasih, pacar, belahan jiwa, atau apapun kita menyebutnya, boleh saja datang dan pergi dalam kehidupan kita. Tapi teman, akan tetap menjadi seorang teman.

Tertarik ingin mencoba tugas unik ini? Coba deh hitung seberapa banyak ’benar-benar’ teman yang kita miliki :).

Tuesday, April 13, 2010

The Time When I Feel Like Crying

Beberapa hari ini saya merasa sangat mudah menangis. Hal sekecil apapun terkadang bisa membuat saya ingin meneteskan air mata. Padahal, sebenarnya saya merasa tidak ada masalah yang cukup berat yang membuat saya harus menangis, atau setidaknya merasa ingin menangis.

Biasanya saya tidak mudah menangis. Saya baru akan menangis ketika saya merasa sangat kecewa ataupun marah, namun lebih sering saya menangis karena terharu.

Tapi terkadang saya juga menangis hanya sekedar untuk menumpahkan kekesalan atau ganjalan di hati saya, agar perasaan saya menjadi lega. Dan biasanya, tidak memerlukan waktu yang terlalu lama pula buat saya untuk segera berhenti menangis.

Saya akui memang saya cukup mellow. Saya hampir selalu meneteskan air mata setiap kali melihat reality show tentang kehidupan masyarakat kecil seperti Bedah Rumah ataupun tayangan ketika pedagang kaki lima digusur. Saya juga selalu tersentuh melihat orang-orang yang sudah berumur namun masih harus bekerja berat.

Saya lebih senang mendengarkan suara hujan daripada berjemur di bawah sinar matahari yang hangat. Saya sering mencatat quote dari tokoh-tokoh terkenal yang saya temukan di lagu, film, buku, majalah, televisi atau radio yang membuat saya terinspirasi. Saya lebih menikmati mendengarkan lagu-lagu slow meskipun lagu-lagunya Bonjovi atau Go Go Dolls selalu ada dalam play list musik saya. Saya juga selalu memilih tempat duduk di dekat jendela tiap bepergian agar bisa menikmati indahnya perjalanan.

Tapi belum pernah saya merasa semelankolis ini sehingga sedikit-sedikit merasa ingin menangis. Ingin meneteskan air mata saya.

Semoga ini hanyalah pengaruh dari beberapa deadline pekerjaan yang hampir bersamaan beberapa waktu ini. Atau pengaruh emosional dari target-target yang ingin saya capai. Ataupun pengaruh pergantian cuaca yang cukup ekstrim akhir-akhir ini yang beberapa kali juga ikut mengganggu kondisi kesehatan saya. Atau apapun itu yang make sense dan bisa dijelaskan.

I hate myself when I feel like crying for no reason..

Saturday, March 20, 2010

Mas Kawin Impian

Lagi lihat-lihat model kamera di internet.

Tiba-tiba iseng kepikiran, sepertinya asyik juga kalau seperangkat kamera menjadi sebuah seserahan atau mas kawin sebuah pernikahan :). 

Well, sebenarnya tidak hanya sekali ini sih saya kepikiran tentang seserahan atau mas kawin yang unik dan berbeda. Seserahan yang seringkali saya lihat hampir di setiap pernikahan selalu saja tidak jauh dari segala pernak-pernik perempuan: tas, sepatu, baju, ataupun beraneka macam cake (hmm cake, is it can be considered as a woman thing? p).

Pas browsing beberapa tipe kamera, dan kebetulan memang saya sedang mulai belajar tentang fotografi lagi, am suddenly thinking.. ehm, how about picking up a camera kit as my ‘seserahan’ or ‘mas kawin’ (hihihi, ngarep! :D).


Imaginasi ini mulai berkembang (cukup) serius di pikiran saya terutama setelah saya membaca beberapa berita pernikahan di internet. Rata-rata untuk uang tunai-nya sih seperti pernikahan lain pada umumnya, melambangkan tanggal pernikahan si pengantin. Yang tak biasa adalah, seperangkat peralatan fotografi, laptop ataupun pohon jati sebagai bentuk mas kawin lainnya. Unique!  

Meski bukan sebagai sebuah keharusan, namun alat sholat biasanya merupakan jenis mas kawin yang paling umum diberikan seorang pengantin pria kepada pengantin perempuan. Bukannya tidak mau mendapat seperangkat alat sholat, hanya saya pikir, masing-masing dari kita pasti sudah punya alat sholat kan (hanya sebuah pemikiran aneh yang terkadang terlintas dalam pikiran)?

Anyway, it is only my imagination while under a deadline at work, hehe :D Nggak ada salahnya kan berimaginasi dan sedikit ehm, ngarep? :p

Tuesday, March 16, 2010

Ketika Salah Membaca Tanggal Deadline

Ketidaktelitian akan sesuatu yang terlihat kecil terkadang dapat menimbulkan pressure tersendiri, yang seharusnya tidak perlu terjadi.

-diambil dari pengalaman pribadi :D-

----------------------------------

After Wed (Wednesday). Satu-satunya jawaban saya dalam 4 hari ini ketika diajak teman menonton, jalan-jalan atau berenang. Ym pun selalu saya aktifkan dengan ikon ‘busy’. Dikejar deadline, itu alasannya.

Mana ada sih orang kerja nggak dikejar deadline? Please let me know if there is anyone like that, hehe :D

Tapi deadline kali ini rasanya agak berbeda buat saya. Deadline dipatok hanya 2 hari kerja kedepan untuk beberapa item pekerjaan yang harus saya selesaikan, dengan melibatkan data dan informasi dari bagian-bagian lain.

Wuih, mendadak kepala langsung penuh. Ibarat mobil, menjelang waktu deadline kecepatan kerja saya setel dengan kecepatan maksimum. Di Sabtu-Minggu juga.

Nah, di sela-sela mengcompile data-data dari bagian lain kemarin malam, sambil saya cek item per item dalam email penugasan itu. Pas saya lihat lagi, saya baru sadar kalau ternyata saya salah membaca tanggal deadline. Harusnya deadline di Rabu / 26 Maret atau masih 1 minggu lagi, namun kemarin saya menganggap deadline-nya pada Rabu minggu ini! Haiyah, capek de… :D

Bersumber dari sebuah ketidaktelitian akan sesuatu yang simple, salah baca tanggal deadline, tapi efeknya luar biasa :). Dikejar deadline memang menaikkan daya juang beberapa tingkat lebih tinggi untuk berangkat kerja dengan semangat membara dan menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, tapi di sisi lain juga menimbulkan pressure tersendiri.

Anyway, meski berjanji pada diri sendiri untuk lebih teliti lagi, saya sih tetap mensyukuri kesalahan ini. Kalau saya tidak salah baca, mungkin progress pekerjaan saya belum mencapai hasil seperti hari ini. Mungkin saya juga tidak akan se-taft dalam mengumpulkan data dari banyak departemen sekaligus juga mengcompile dan merumuskannya dalam sebuah materi tulisan dalam waktu singkat.

Setelah sadar bahwa waktu deadline masih cukup jauh sementara progress pekerjaan saya sudah hampir selesai, langsung deh saya online semalaman sampai puas (hahaha, balas dendam ceritanya).

------------------------------------------------------
Most learnt lesson for myself: Lebih teliti lagi!
Good point about me in this case: Yippe, I could work under pressure with smile still on my face!
Something funny happened: 'After Wed'. Maksud saya adalah after Wednesday atau setelah Rabu, namun beberapa teman mengartikan ‘after wed’ dengan pasca menikah setelah pre wed, hahaha :D

Wednesday, March 3, 2010

Sampah di Tidung

Kenapa sih mesti ada sampah di laut?

Itu yang ada dalam pikiran saya, dari sejak kapal meninggalkan Muara Angke dan berlayar menuju Pulau Tidung, terlebih ketika kapal akan merapat di dermaga Pulau Tidung.


Sampah di mana-mana. 

Foto diambil oleh Mas Dani Daniar, salah satu teman di Indo Nikon (Mas Dani, saya ijin ya upload fotonya disini).

Padahal pantai Pulau Tidung indah, punya potensi untuk dikembangkan. Ada jembatan sepanjang 2 km di atas laut yang mungkin tidak akan ditemui di pantai-pantai lain. Pasirnya putih bersih. Lautnya memiliki 2 warna, hijau dan biru. Jernih. Terumbu karangnya terlihat dari permukaan air tanpa kita harus menyelam. 



Cantik kan pantainya? 

Tapi sayang, banyak sampah. Banyaknya bulu babi di pantai menjadi salah satu indikator pantai ini tidak sehat, akibat sampah.

Menurut masyarakat Pulau Tidung, sampah bukan berasal dari mereka melainkan sampah buangan dari Jakarta. Warga sendiri sudah berusaha untuk mengatasi masalah sampah ini, tapi keterbatasan daya membuat mereka tidak mampu mengatasi sampah yang datangnya hampir setiap hari dengan frekuensi yang besar. 

Teringat obrolan dengan Mbak Rieska, bagaimana bisa Pantai Tidung bisa dipromosikan ke orang luar jika banyak sampah? Masalah penginapan yang sederhana tidak akan menjadi masalah buat mereka, but rubbish does really matter for them.

So, haruskah sampah menjadi penghambat Pulau ini untuk berkembang?