Wednesday, March 3, 2010

Sampah di Tidung

Kenapa sih mesti ada sampah di laut?

Itu yang ada dalam pikiran saya, dari sejak kapal meninggalkan Muara Angke dan berlayar menuju Pulau Tidung, terlebih ketika kapal akan merapat di dermaga Pulau Tidung.


Sampah di mana-mana. 

Foto diambil oleh Mas Dani Daniar, salah satu teman di Indo Nikon (Mas Dani, saya ijin ya upload fotonya disini).

Padahal pantai Pulau Tidung indah, punya potensi untuk dikembangkan. Ada jembatan sepanjang 2 km di atas laut yang mungkin tidak akan ditemui di pantai-pantai lain. Pasirnya putih bersih. Lautnya memiliki 2 warna, hijau dan biru. Jernih. Terumbu karangnya terlihat dari permukaan air tanpa kita harus menyelam. 



Cantik kan pantainya? 

Tapi sayang, banyak sampah. Banyaknya bulu babi di pantai menjadi salah satu indikator pantai ini tidak sehat, akibat sampah.

Menurut masyarakat Pulau Tidung, sampah bukan berasal dari mereka melainkan sampah buangan dari Jakarta. Warga sendiri sudah berusaha untuk mengatasi masalah sampah ini, tapi keterbatasan daya membuat mereka tidak mampu mengatasi sampah yang datangnya hampir setiap hari dengan frekuensi yang besar. 

Teringat obrolan dengan Mbak Rieska, bagaimana bisa Pantai Tidung bisa dipromosikan ke orang luar jika banyak sampah? Masalah penginapan yang sederhana tidak akan menjadi masalah buat mereka, but rubbish does really matter for them.

So, haruskah sampah menjadi penghambat Pulau ini untuk berkembang?


0 comments: