Saturday, November 2, 2013

Sesuatu di balik ‘Duduk di Pinggir Jendela’


Ditulis dari tahun 2011, entah mengapa tulisannya terselip disimpan di mana, dan mendadak ketemu lagi bulan lalu.. J

--------------------------------------------------------------------
Entah untuk perjalanan darat, laut ataupun udara, duduk di pinggir jendela selalu menjadi favorit saya. Makanya, jarang banget saya mau tukeran tempat duduk kecuali untuk orang lanjut usia atau Ibu-Ibu yang tempat duduknya terpisah dari anaknya yang masih kecil.
Di counter check in bandara, di loket kereta, ataupun agen bus, 1 kalimat yang tak pernah lupa saya ucapkan ke petugas counter / agennya ialah “minta tolong tempat duduknya dekat jendela ya Pak / Bu...”
Dan biasanya, kalau ada anak muda seusia saya dan kelihatan baik-baik saja serta sehat walafiat minta tuker tempat duduk, saya suka bilang: “aduh maaf, saya kalau duduknya nggak di deket jendela suka muntah”…:D
Duduk di deket jendela, kalau di kereta, membuat saya bisa menikmati hamparan sawah dan pegunungan di luar jendela. Juga, melihat dengan mata sendiri tentang kesenjangan yang ada di belakang gedung-gedung bertingkat yang selama ini terlihat dari jalan raya. Ternyata dibalik kemegahan bangunan kuat nan kokoh di sepanjang jalan, masih ada lho rumah-rumah dari triplek yang kumuh dan padat. Tak hanya menikmati keindahan alam di sepanjang perjalanan, duduk di pinggir jendela ketika menggunakan transportasi kereta juga mengasah empati saya dengan sesama.
Di pesawat, duduk di pinggir jendela adalah untuk menikmati awan dan semua pemandangan yang terhampar di bawah sana. Dengan schedule pekerjaan saat ini, setidaknya setiap 6 minggu sekali saya bepergian menggunakan pesawat dengan rute Balikpapan-Jakarta dan 2 minggu kemudian menuju Balikpapan lagi dari Jakarta. Spot favorit saya untuk rute Balikpapan-Jakarta ada 2: yang pertama kelak-kelok sungai di Kalimantan menuju laut lepas dan yang kedua kerlap-kerlip lampu Ibu Kota saat mau landing.
That’s why, schedule flight balik ke Jakarta selalu ambil yang malam, sementara penerbangan ke Balikpapan mostly di pagi hari.
Jika saat kecil dulu duduk di pinggir jendela saya gunakan untuk menikmati pemandangan selama perjalanan, saat ini duduk di pinggir jendela saat berada dalam perjalanan terkadang membuat saya jadi punya waktu untuk melakukan intrapersonal communication dengan diri sendiri. Untuk berdialog, bahkan terkadang ‘noto roso’ atau menata hati saat sedang punya masalah.
Terkadang, saat-saat duduk di pinggir jendela dalam perjalanan menjadi waktu di mana saya justru bisa berpikir dengan tenang dan jernih.
Jadi bukan melamun sih sebenarnya saat duduk di pinggir jendela kalau kelihatan lagi asyik termenung, tapi lebih sedang berkomunikasi dengan diri sendiri *cailah

Tapi kesukaan saya duduk di samping jendela juga bukan berarti saya meninggalkan rasa tepo seliro saya.. Sesuka apapun saya dengan ‘duduk di samping jendela’, saya tetap dengan senang hati akan pindah tempat duduk dan memberikan kursi di pinggir jendela untuk seorang Ibu agar bisa duduk dekat dengan anaknya, atau anak kecil yang ingin melihat awan :)

Ada yang suka juga duduk di samping jendela seperti saya?

0 comments: